Anda disini : Beranda
Kamis, 19 Oktober 2017       ENG | IND
Biawak Komodo

Biawak Komodo (Varanus komodoensis), merupakan kadal terbesar yang hanya terdapat di 5 pulau di Indonesia bagian timur. Empat pulau terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Komodo, yaitu: pulau Komodo, Rinca, Nusa Kode (Gili Dasami) dan Gili Motang. Pulau yang terakhir sekaligus merupakan pulau yang terbesar yaitu Flores. Di Flores terdapat tiga kawasan Cagar alam yang didalamnya masih terdapat populasi biawak Komodo, yaitu Wae Wuul, Wolo Tado, dan Riung. Hasil penelitian terakhir menyimpulkan bahwa diperlukan upaya konservasi yang berbasis pulau untuk pengelolaan populasi biawak Komodo.           

      


Distribusi

Kadal dari keluarga Varanidae (biawak) memiliki area sebaran yang luas, mulai dari Australia, Asia hingga Afrika (Pianka 1995). Biawak Komodo (Varanus komodoensis) merupakan spesies terbesar dari keluarga biawak (berat tubuhnya mencapai 87 kg dengan panjang maksimal 308 cm), akan tetapi kadal ini justru memiliki sebaran tersempit, yaitu hanya terdapat di beberapa pulau kecil di wilayah timur Indonesia. 

Biawak Komodo dapat ditemukan dari ketinggian 0 hingga 800 meter diatas permukaan laut. Habitat utamanya merupakan area hutan gugur tropis (Auffenberg 1981). Saat ini Biawak komodo hanya dapat ditemukan di lima pulau di wilayah timur Indonesia, empat pulau diantaranya terdapat didalam kawasan Taman Nasional Komodo dan pulau lainnya yaitu pulau Flores, tepatnya di pantai barat dan utara pulau tersebut. 

Biologi Umum Komodo

Biawak Komodo (Varanus komodoensis) adalah hewan yang dilindungi oleh Konvensi Internasional Perdagangan Spesies Hewan dan Tumbuhan Liar (CITES) atau Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora sebagaimana tercantum dalam Lampiran I (Appendix I). selain itu, Biawak Komodo diklasifikasikan ‘rentan’ atau ‘vulnerable’ oleh badan Internasional untuk Konservasi Sumber Daya Alam (IUCN) atau International Union for the Conservation of Nature Resources karena penurunan demografi dan memiliki penyebaran terbatas (Ciofi et al. 2002). Di Indonesia, jenis ini dilindungi oleh Undang-Undang No.5 Tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta oleh Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1998, tentang Perlindungan Tumbuhan dan Hewan Liar.
 

Biawak Komodo adalah anggota keluarga Varanidae yang memiliki ukuran paling besar dan dikenal sebagai kadal terbesar yang masih hidup, spesies jantan dewasa dapat mencapai panjang 3 m dan berat mencapai 87 kg. Spesimen yang meiliki kekerabatan terdekat dari anggota keluarga Varanidae lainnya adalah Varanus salvadorii, yang mencapai panjang sekitar 265 cm. Spesies dari keluarga Varanidae besar lainnya terjdapat di pulau Jawa, Bali dan seluruh wilayah Sunda Kecil, yaitu Varanus salvator, dapat mencapai panjang tubuh hingga 218 cm denganberat hingga 25 kg.
 
Anakan biawak Komodo memiliki panjang tubuh antara 30 - 40 cm dengan berat tubuh 80 - 100 gram. Anakan biawak Komodo memiliki ciri pola sebagian besar coklat, bintik-bintik kuning dan oranye yang berbeda pada daerah punggung dan di bagian moncongnya. Daerah temporal ke kaki depan berwarna abu-abu terang dengan bintik-bintik putih. Kaki depan berwarna coklat dengan bintik-bintik putih tampak melingkar secara horisontal. Bagian atas dari tubuh berwarna kuning terang dengan bintik-bintik gelap yang besar. Pola warna pada tubuh anakan secara bertahap hilang dengan bertambahnya usia.
 
Biawak Komodo remaja, terutama betina, masih menyajikan warna ringan di bagian moncongnya, tetapi memiliki tubuh bumi coklat. Biawak Komodo dewasa biasanya berwarna coklat. Betina dewasa dapat memiliki warna coklat-hijau di moncong mereka. Jantan Dewasa lebih besar dari betina.
 
Meskipun tidak biasanya hewan reptil menjadi predator dominan dalam ekosistem mereka, tidak demikian dengan Biawak Komodo. Hal ini dikarenakan tidak adanya mamalia karnivora di daerah sebarannya, disertai ukuran biawak Komodo dewasa yang sangat besar dan ditambah dengan bakteri septik dalam air liur mereka, membuat komodo menempati posisi predator puncak dalam ekosistem mereka (Auffenberg 1981, Ciofi 2002). Jenis mangsa utama biawak Komodo dewasa adalah tiga spesies hewan ungulata besar, yaitu : Rusa Timor (Cervus timorensis), Babi Hutan (Sus scrofa) dan Kerbau Air (Bubalus bubalis) (Auffenberg 1981), Rusa Timor merupakan jenis mangsa yang disukai (Jessop et al. 2006)
.

Reproduksi

Ritual proses reproduksi biawak Komodo dimulai pada bulan Mei. Pada waktu ini biasanya diawali dengan perkelahian antar Komodo jantan untuk memperebutkan betina. Selanjutnya pada bulan Juli setelah kawin, Komodo betina akan mulai menggali sarang mereka, dan meletakkan telurnya (kurang lebih 2 meter didalam tanah) sekitar bulan Agustus. Komodo betina akan menetap disarang untuk menjaga telurnya hingga sekitar bulan Desember, pada saat mereka menganggap telurnya sudah aman dari ancaman pemangsa. Setelah itu Komodo betina akan kembali beraktivitas dan mencari mangsa untuk mengembalikan kondisi tubuhnya. Anak Komodo akan menetas antara bulan Februari hingga April, yaitu pada akhir musim hujan. Pada waktu tersebut mangsa bagi biawak Komodo (serangga) cukup melimpah, sehingga memungkinkan anakan komodo untuk bertahan hidup sendirian. 

What's on

Kamera pengintai

(05/03/2013) Penggunaan camera trap untuk pemantauan populasi biawak Komodo -more

Renovasi Pos

(05/03/2013) Perbaikan Pos Jaga Cagar Alam Wae Wuul -more

Usia komodo

(26/03/2013) Komodo Jantan dapat tumbuh lebih besar dan hidup dua kali lebih panjang dari pada Komodo betina. -more

Komodo Survival Program

"Developing capacity and reliable knowledge to conserve komodo dragons and it's environment."

Komodo Survival Program (KSP) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Denpasar BALI. KSP bergerak di bidang konservasi, khususnya pada satwa Komodo dan habitatnya.

Dukung kami untuk melestarikan dan menyelamatkan satwa kebanggaan Indonesia ini dari kepunahan.